Pelajaran Berharga

Tuesday, April 15, 2008 Posted by the fikre

sebuah posting agar kita lebih waspada dan hati-hati senin, 14 april 2008.
Baru saja saya mengucapkan salam dan masuk rumah sepulang dari kantor. Suasana panik terlihat jelas di rona isteriku sementara mas Fikri bersikap seperti biasa setelah menyambut kedatanganku di depan pintu begitu mendengar deru motor supraku. Selanjutnya dia sudah asyik dengan mainannya. Setelah aku melepas sepatu dan jaket, sesaat kemudian isteriku cerita : berdasarkan laporan dari bu guru, mas Fikri telah memasukkan potongan tempe goreng ke dalam lubang hidung sebelah kanan dan sampai saat ini belum bisa dikeluarkan. Saya berusaha utk tetap tenang dengan memperhatikan perilaku mas fikri yang sepertinya tidak pernah terjadi apa2 terhadap dirinya. Dengan tenang, kemudian saya berusaha berkomunikasi dengan anakku. Beberapa pertanyaan mengenai kegiatan dia di tpa hari itu seperti biasa tidak di respon dengan antusias. Aku langsung menanyakan kebenaran laporan dari bu guru di tpa mengenai masukknya potongan tempe goreng ke hidungnya mas Fikri dan ia mengiyakan. Kemudian aku pegang hidungnya sambil bertanya apakah rasanya sakit? Jawabnya : ya tapi dia tetap saja asyik dengan mobil-mobilannya seolah tidak merasakan kalau ada potongan tempe goring di hidungnya. Aku berusaha melihat ke lubang hidungnya, tetapi mas Fikri malah berteriak mau nangis. Akhirnya aku urungkan dan langsung bertanya atas ide siapa, niru siapa sehingga dia melakukan tindakan yang membahayakan. Jawabnya : tidak tahu Beberapa kali di bersin karena memang pilek, dan aku langsung menanyakan apakah ada yang keluar dari hidungnya sewaktu bersin, Jawabnya : tidak. Sambil membersihkan ingusnya, aku sengaja sedikit memencet hidungnya, dan seketika itu mas Fikri menangis keras-keras dan memprotes tindakanku. Artinya, potongan tempe goreng tersebut masih ada di dalam lubang hidungnya. Harapanku, benda itu bisa keluar sendiri atau masuk ke kerongkongan saat bersin, tapi ternyata tidak. Terbukti anakku malah menangis sejadi-jadinya ketika hidungnya sedikit tak pencet. Selesai sholat maghrib dan makan malam kami pergi ke dokter THT yg dekat dengan rumah, setelah mendapat informasi dari orang tuanya kak Sidqi (temannya mas Fikri di tpa). Di perjalanan kami mengatakan kalau nanti potongan tempenya diambil oleh dokter, mas Fikri tidak boleh takut, tapi kalau menangis tidak apa-apa, sambil mengingatkan agar tidak mengulangi dan melakukan perbuatan yang membahayakan dan menyakiti dirinya sendiri atau teman2nya. Sampai di rumah dokter THT, ternyata beliau masih praktek di rumah sakit di jalan pandanaran. Akhirnya kami langsung ke rumah sakit setelah sebelumnya telpon terlebih dahulu mengingat jam prakteknya sudah mau tutup. Alhamdulillah, akhirnya potongan tempe goreng tersebut bisa dikeluarkan dengan ketrampilannya bu dokter dengan kami harus ikut memegangi erat2 tubuh anak kami. Ada sedikit darah yang keluar waktu benda tsb di cungkil keluar dan anak kami menangis karena mungkin sakit dan juga takut. Kami terkejut….karena ternyata potongan tempe itu cukup besar utk ukuran lubang hidungnya mas Fikri, sehingga ketika di keluarkan terdapat dua potongan dengan ukuran yang kedua lebih kecil dari yang pertama keluar. Sesaat setelah selesai, mas Fikri langsung minta keluar dari ruangan sambil masih menangis diikuti oleh mamanya. Di luar ternyata dia langsung berhenti menangis dan asyik dengan mainan anak2 yang ada di lantai itu. Kamipun pulang, setelah membayar biaya tindakan hampir 150ribu rupiah. Di perjalanan kami bilang ke mas Fikri kalau kami harus membayar mahal karena perbuatannya tersebut sambil mengingatkan utk tidak boleh mengulanginya lagi. Sambil bercanda kami juga bilang kalau seandainya dibelikan mainan Bagokan yang diminta mas Fikri bisa dapat banyak sekali lho. Dan sepertinya mas Fikri bisa mengerti maksud kami. Semoga saja kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua utk lebih waspada dan hati2 terhadap apa yang dilakukan oleh anak2 kita.
Amin.

1 comments:

  1. Anonymous said...

    hwaduuuuh.... fikri ini enek-enek wae... keseringen nonton sulap ki mesthi... xixixix...